Dari Pinggir Mangrove, SMAN 8 Balikpapan Jadi Pionir Kurikulum Dual Track di Kaltim

Oleh redaksi-j pada 21 Agu 2025, 15:17 WIB

Siswa SMA Negeri b Balikpapan dengan keterampilan praktis untuk menghadapi dunia kerja. / Smartrt / Sudarman

Smartrt.news, BALIKPAPAN – Dari sebuah sekolah yang berdiri di tepian kawasan mangrove Margomulyo Balikpapan, langkah besar lahir untuk masa depan pendidikan Kaltim.

SMA Negeri 8 Balikpapan mencatat sejarah sebagai salah satu pelopor pelaksanaan Kurikulum Dual Track, program inovatif yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan praktis untuk menghadapi dunia kerja.

Kurikulum ini digagas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya) dan mulai diluncurkan pada akhir 2022.

Tujuannya sederhana tapi mendesak: memberikan keterampilan nyata bagi siswa SMA, terutama mereka yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Data menunjukkan, lebih dari separuh lulusan SMA di Kaltim belum memiliki akses pendidikan lanjutan.

Tantangan di Awal

Ketika program ini dirancang untuk sekolah-sekolah di daerah, seperti Kutai Barat hingga Pulau Maratua, kendala muncul karena jumlah peserta minimal 120 siswa sulit dipenuhi.

SMAN 8 Balikpapan dengan jumlah siswa yang memadai akhirnya ditunjuk menjadi salah satu dari 20 sekolah pertama di Kaltim yang melaksanakan program ini sekaligus satu-satunya dari Balikpapan.

“Awalnya kami tidak punya alat, belum tahu ada dana atau tidak. Tapi kami yakin, program ini harus tetap jalan,” ujar Kepala Sekolah SMAN 8 Balikpapan Ali Arham, belum lama ini.

Tantangan di awal begitu nyata. Sekolah belum memiliki laboratorium praktik, guru pun belum mendapatkan pelatihan khusus. Dengan semangat gotong royong, pihak sekolah menggandeng pelatih dari industri lokal dan praktisi film.

“Anak-anak kami bahkan harus naik angkot untuk pelatihan, ke SIK Teritip, ke workshop Batik Shaho, bahkan ke warkop depan Living Plaza,” kenang Ali sambil tersenyum.

Siswa SMA Negeri b Balikpapan dengan keterampilan praktis untuk menghadapi dunia kerja. / Smartrt / Sudarman

Tiga Bidang Keterampilan

Program Dual Track ini menawarkan tiga bidang keahlian: tata busana, tata boga, dan multimedia. Siswa mengikuti pelatihan selama setahun, dari semester genap kelas 10 hingga semester ganjil kelas 11, dengan durasi 120 jam. Materinya meliputi orientasi, produksi, pemasaran, hingga evaluasi.

Memasuki tahun kedua, barulah bantuan alat pelatihan dikirimkan pemerintah. Namun, muncul tantangan baru: keterbatasan ruang dan besarnya peralatan. Perlahan, sekolah melakukan penyesuaian ruang praktik hingga akhirnya tahun ketiga, pelatihan bisa dilakukan penuh di sekolah dengan fasilitas lengkap.

Hasil dari program ini mulai tampak. Beberapa alumni berhasil membuka usaha kecil, seperti kedai minuman ringan rumahan, sementara yang lain menekuni dunia multimedia.

Salah satu lulusan bahkan berhasil menjuarai lomba film pendek di Ibu Kota Nusantara (IKN). Karya itu mengantarkannya diterima di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, jurusan Film dan Televisi.

“Dulu, dia bahkan belum tahu cara memegang kamera dengan benar. Sekarang dia jadi juru dokumentasi di acara-acara penting dan bisa kuliah di luar kota dari hasil karyanya sendiri,” kata Ali bangga.

Harapan untuk Masa Depan

Menurut Ali, Kurikulum Dual Track tidak hanya mendidik siswa untuk pintar secara akademik, tetapi juga produktif, mandiri, dan kreatif. “Kami ingin siswa bisa bantu diri sendiri, bahkan keluarganya,” tegasnya.

Salah seorang siswi kelas XI, Mira, yang mengikuti jurusan tata boga, mengaku sangat terbantu. “Saya bisa bikin kue sendiri, bahkan sekarang sering terima pesanan kecil-kecilan dari tetangga. Senang sekali rasanya,” ujarnya sambil tersipu.

Program ini juga dinilai sejalan dengan kebutuhan Kaltim sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) yang membutuhkan tenaga kerja terampil di berbagai sektor. Dengan adanya Kurikulum Dual Track, lulusan SMA diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.

“Kalau program ini berlanjut konsisten, saya optimis anak-anak Balikpapan akan lebih siap bersaing. Mereka bukan hanya generasi cerdas, tapi juga generasi tangguh,” tutup Ali.