Hibah PP-PTS Dorong Reformasi Kurikulum di Universitas Mulia, Farmasi & TI Jadi Motor Inovasi
Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia (UM) / Universitas Mulia
Smartrt.news, BALIKPAPAN – Di ruang rapat yang penuh catatan strategi dan diagram alur, Wisnu Hera Pamungkas, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi Universitas Mulia (UM), menatap serius proposal hibah yang kini telah menjadi kenyataan.
Tahun ini, UM resmi memperoleh Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta (PP-PTS) 2025 dari Kemendikbudristek, dengan nilai hampir setengah miliar rupiah—sebuah suntikan besar bagi dua program studi kunci: Farmasi dan Teknologi Informasi.
Namun, Wisnu tidak melihat hibah ini semata sebagai daftar belanja peralatan. “Tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan peralatan,” ujarnya tegas,
“tetapi bagaimana kita mengintegrasikannya penuh ke dalam kurikulum dan memastikan fasilitas ini benar-benar memperkuat capaian pembelajaran lulusan.”
Dari Furnace hingga Sandbox Lab
Di Program Studi Farmasi, peralatan baru senilai lebih dari Rp300 juta—termasuk furnace dan hematology analyzer—akan mengubah wajah praktikum.
Wisnu menyebut bahwa perangkat ini harus masuk langsung ke Rencana Pembelajaran Semester (RPS), berpadu dengan modul berbasis Outcome Based Education (OBE).
Lebih dari itu, ada prinsip Green Pharmacy dan pharmapreneurship yang akan ditanamkan, agar lulusan paham keberlanjutan dan peluang inovasi bisnis farmasi.
Sementara di Teknologi Informasi, paradigma praktikum bergeser drastis. Sandbox lab yang baru dihadirkan memungkinkan mahasiswa menguji simulasi serangan siber, konfigurasi jaringan, hingga deployment cloud nyata—bukan sekadar simulasi di layar.
“Ini menuntut dosen menyiapkan skenario pembelajaran berbasis proyek yang kompleks dan relevan dengan industri,” tambah Wisnu.
Hibah Sebagai Pemicu Reformasi
Bagi UM, hibah ini adalah pemantik reformasi kurikulum. Di Farmasi, akan ada revisi RPS dan modul praktikum yang selaras dengan standar industri farmasi terkini. Di TI, perangkat sandbox lab membuka jalan bagi project-based learning yang menekankan keterampilan aplikatif.
Semua diarahkan untuk menjawab tuntutan zaman: lulusan yang bukan hanya menguasai teori, tetapi mampu menerapkannya di lapangan nyata.
Monev Berlapis, Bukan Simbol Semata
Wisnu menyadari risiko fasilitas baru menjadi sekadar simbol. Karena itu, UM menyiapkan monitoring dan evaluasi berlapis: log book penggunaan alat oleh dosen dan laboran, survei kepuasan pengguna, hingga evaluasi capaian kompetensi mata kuliah.
Indikator keberhasilan pun konkret—jumlah revisi RPS, persentase capaian CPL, dan dampak nyata pada pembelajaran.
Dosen sebagai Penggerak Utama
Tak kalah penting, peningkatan kompetensi dosen dan laboran menjadi prioritas. Di Farmasi, pelatihan mencakup pengoperasian furnace dan mikroskop trinokuler dengan kamera, lalu mengintegrasikannya ke modul Problem-Based Learning. Di TI, pelatihan fokus pada perangkat keras jaringan, server, dan pengembangan skenario pengajaran berbasis kasus nyata di sandbox lab.
“Keberhasilan fasilitas hibah sangat bergantung pada kualitas SDM yang mengelolanya,” tegas Wisnu.
Living Laboratory untuk Inovasi
UM punya visi menjadikan fasilitas ini sebagai living laboratory—ruang hidup tempat mahasiswa aktif bereksperimen. Mahasiswa Farmasi akan mengembangkan produk berbasis bahan alam, dari standarisasi hingga uji keamanan. Mahasiswa TI akan menggarap proyek keamanan siber dan eksperimen cloud computing dalam skenario realistis.
Lewat tugas proyek, capstone project, hingga kompetisi, peralatan hibah ini diharapkan menjadi motor eksplorasi dan inovasi mahasiswa.
Di akhir wawancara, Wisnu tersenyum tipis. Hibah ini, baginya, adalah awal perjalanan panjang menuju pembelajaran yang lebih relevan, dinamis, dan berdampak.
“Yang terpenting,” katanya, “adalah memastikan teknologi ini menjadi bagian dari kehidupan akademik sehari-hari—bukan sekadar aset di lemari laboratorium.”
(Tim Smartrt.news/Johan/Sumber : Universitas Mulia)
