Uji Coba MUK di Universitas Mulia: Menyatukan Kampus, Kompetensi, dan Masa Depan IKN
Para Peserta (Asesi) Sedang Melakukan Uji Materi MUK (foto : Humas Universitas Mulia)
Smartrt.news, BALIKPAPAN – Suasana White Campus Universitas Mulia tak seperti biasanya. Suara ketukan keyboard, bisik-bisik diskusi, dan aroma semangat terasa kuat di udara, salah satu ruangan.
Bukan karena ujian biasa, tapi karena Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mulia tengah menggelar uji coba Materi Uji Kompetensi (MUK) – sebuah tahapan krusial menuju pengakuan formal atas kompetensi mahasiswa.
Di balik layar, Dr. Mada Aditia Wardhana, S.Sos., M.M., selaku Kepala UPT LSP Universitas Mulia, tampak tenang tapi fokus. Ia tahu, hari ini bukan sekadar formalitas untuk memenuhi standar Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Ini adalah momen uji keandalan – bukan pada mahasiswa, tapi pada instrumen asesmennya.
“Kami ingin memastikan alat ukurnya tepat. MUK ini bukan soal lulus atau tidak, tapi apakah ia benar-benar bisa menangkap kemampuan nyata mahasiswa, sesuai SKKNI,” ujar Mada, sambil memantau satu per satu sesi uji coba.
Mengukur Lebih dari Sekadar Nilai
Bagi Mada, MUK bukan hanya deretan soal dan tugas. Ia adalah cermin yang memantulkan kualitas kurikulum, kesiapan dosen, dan arah pembelajaran kampus. Hal senada disampaikan Rektor Universitas Mulia, Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si., yang hadir memantau langsung proses uji coba.
“MUK adalah titik temu antara capaian akademik dan kebutuhan riil dunia kerja. Kalau ini bisa kami jalankan dengan baik, artinya kurikulum kita tidak berjalan sendiri – ia selaras dengan industri,” kata Ahsin.
Baginya, pendekatan ini sejalan dengan Outcome-Based Education (OBE) yang menjadi roh pendidikan di Universitas Mulia. Sertifikasi tidak lagi menjadi tambahan, tapi bagian dari arsitektur pembelajaran. Ia harus terintegrasi dengan mata kuliah, dinilai sebagai bagian dari capaian pembelajaran lulusan (CPL), dan berdampak langsung pada kualitas SDM yang dihasilkan.
“Kalau mahasiswa dinilai melalui asesmen yang diakui industri, maka ijazahnya bukan sekadar simbol akademik – tapi bukti kompetensi yang sah secara nasional,” tambahnya.
Menyentuh yang Tak Terjangkau: Sertifikasi untuk Semua
Namun, tak semua mahasiswa punya kemudahan akses. Kampus PSDKU (Program Studi di Luar Kampus Utama) misalnya, seringkali terkendala fasilitas dan infrastruktur. Hal ini tidak luput dari perhatian.
Alih-alih menyerah pada kesenjangan, Universitas Mulia mengembangkan sistem yang tangguh dan inklusif. Data jadi senjata. Teknologi jadi jembatan. Rektor menyebutkan penguatan skema pembiayaan, pelatihan jarak jauh, serta digitalisasi proses sertifikasi sebagai kunci menjawab tantangan pemerataan.
“Distribusi akses bukan cuma soal perangkat, tapi tentang keberpihakan sistem. Kita jawab bukan dengan kebijakan tambal-sulam, tapi reformasi struktur,” tegasnya.
Menatap IKN: Kompetensi untuk Masa Depan Nusantara
Dalam latar pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Universitas Mulia tak ingin hanya jadi penonton. Kampus yang berada di Balikpapan – kota penyangga utama IKN – justru melihat uji coba MUK sebagai investasi strategis.
“Kami ingin lulusan kami tidak hanya jadi sarjana, tapi tenaga ahli yang tersertifikasi, siap terjun ke sektor-sektor strategis di IKN,” ujar Rektor dengan nada penuh keyakinan.
Langkah ini diperkuat dengan kemitraan bersama dunia industri, LSP, dan jejaring Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Sertifikasi menjadi pintu masuk membangun portofolio technopreneur mahasiswa: mulai dari inovasi, proposal bisnis, hingga proyek sosial berbasis teknologi.
Bagi Universitas Mulia, hari itu bukan sekadar ujian. Tapi simbol keseriusan kampus merancang masa depan – masa depan di mana kompetensi, akses, dan pengakuan nasional menjadi milik semua mahasiswa, tanpa kecuali.
Dan ketika IKN berdiri tegak sebagai simbol peradaban baru Indonesia, Universitas Mulia ingin bisa berkata: “Kami sudah siap, sejak dari sekarang.”
(Tim Smartrt.news/Johan/Sumber : Humas Universitas Mulia)
