Universitas Mulia Bangun Ekosistem Kepemimpinan, Pejabat Struktural Dituntut Visioner
Seluruh pimpinan Universitas Mulia bersama pimpinan Yayasan Airlangga berfoto bersama usai prosesi pelantikan pejabat struktural. (foto : Universitas Mulia)
Smartrt.news, BALIKPAPAN – Pelantikan pejabat struktural Universitas Mulia pada 15 Agustus 2025 lalu bukan sekadar rotasi jabatan, tetapi bagian dari reformasi tata kelola sumber daya manusia (SDM).
Universitas Mulia menegaskan, pejabat baru harus tampil sebagai motor perubahan yang memastikan arah organisasi tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Wakil Rektor Bidang Sumberdaya, Yusuf Wibisono, S.E., M.T.I., menekankan bahwa seleksi dilakukan berbasis data dengan mempertimbangkan rekam jejak akademik, pengalaman profesional, hingga uji wawancara yang mengukur kapasitas kepemimpinan.
“Ukuran keberhasilan bukan hanya capaian administratif, tetapi kemampuan membangun kohesi tim, mengarahkan energi kolektif, dan menghadirkan kepemimpinan visioner,” ujarnya.
Menurut Wibisono, jabatan struktural di Universitas Mulia bukan sekadar peran administratif. Para pejabat diminta tampil sebagai penggerak nilai, fasilitator inovasi, dan penjaga arah institusi.
“Tugas mereka adalah membawa perubahan yang relevan, bukan hanya menjaga kelancaran administrasi,” tegasnya.
Universitas Mulia juga merancang desain organisasi untuk mencegah tumpang tindih fungsi. Posisi yang menuntut ketersediaan tinggi diisi tenaga kependidikan, sementara dosen tetap difokuskan pada kewajiban akademik dan peran strategis lainnya.
Lebih jauh, pembinaan tidak berhenti pada pelantikan. Evaluasi berkala, rotasi, mutasi, dan promosi disiapkan untuk menjaga konsistensi kepemimpinan sekaligus membuka ruang tumbuh bagi SDM potensial.
“Evaluasi bukan sekadar menilai hasil kerja, tapi juga konsistensi dalam memimpin,” jelas Wibisono.
Langkah ini menunjukkan Universitas Mulia menempatkan jabatan struktural sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar distribusi jabatan.
Dengan seleksi berbasis kompetensi, distribusi peran yang proporsional, serta mekanisme pengembangan yang berkesinambungan, universitas berupaya membangun ekosistem kepemimpinan yang tangguh.
Amanah ini, kata Wibisono, harus dipandang sebagai panggilan pengabdian. “Para pejabat baru memikul tanggung jawab menjaga kualitas, menegakkan integritas, dan menghadirkan inovasi demi masa depan generasi berikutnya,” pungkasnya.
(Tim Smartrt,news/Johan/Sumber : Universitas Mulia)
